Diztsam’s Blog

November 30, 2008

love match

Filed under: fun — dizt @ 1:59 am

Posisi kita dalam keluarga juga bisa “dibaca” dalam hal percintaan

 

Sulung + Sulung

 

Kalau judulnya adalah kepala ketemu kepala, pasti bakal mengalami beberapa benturan dan kesulitan. Karena… sama-sama ambisius, berjiwa pemimpin, jadinya kalau yang satu mencoba ngasih nasehat atau saran, yang satunya pasti agak susah menerima dengan ego yang sama-sama besar.

 

Sulung + Tengah

 

Lumayan cocok, karena anak tengah ini sebenarnya bisa jadi pasangan asyik buat siapa aja yang gampang diajak kerjasama a.k.a pengertian. Apalagi peran dia sebagai seorang kakak sekaligus adik dalam keluarga, juga sering jadi penengah dalam hubungan.

 

Sulung + Bungsu

 

Pasangan yang paling cocok nih…Yang satu terbiasa ngemong adiknya, dan yang satunya dimong kakaknya. Si bungsu bisa belajar arti kedewasaan dari si sulung, dan sebaliknya, si sulung belajar untuk lebih menghargai pendapat orang lain/ kompromi. Meski banyak juga, anak bungsu yang cenderung lebih dewasa. Pasangan ini bisa saling mengisi dan melengkapi.

 

Tengah + Bungsu

 

Kalau si tengah bisa menempatkan diri sebagai sulung, mungkin bakal berhasil. Tapi kalau si tengah justru bertingkah jadi bungsu, bakal sedikit tabarakan.

 

Bungsu + Bungsu

 

Sifat periang yang biasanya dimiliki anak bungsu, katanya sih bisa membawa keceriaan dalam hubungan. Nah… kalau bungsu ketemu bungsu, enaknya bisa bikin hubungan itu jadi lebih menyenangkan dan santai. Nggak enaknya kalau udah menyangkut masalah. Nggak ada yang bisa mengalah. Dan saking santenya… suka menganggap remeh masalah yang dating.

 

Sulung + Tunggal

 

            Nah… ada kemungkinan sifat anak tunggal : mandiri-dewasa, atau malah manja. Tapi dua sifat itu bakal cocok kalau ketemu sama sulung. Soalnya… si sulung ini bisa ngemong si manja, dan bisa kompak banget.

 

 

 

vit c

Filed under: info — dizt @ 1:57 am

Hubungan antara Vitamin C dan flu
Oleh Ambara Rachmat Pradipta
Mahasiswa program Master Universitas Osaka, Jepang

Banyak diantara kita yang ketika kita terserang flu segera berfikir untuk meminum jus jeruk atau suplemen vitamin C. Tetapi apakah cara tersebut memang efektif untuk menyembuhkan flu?

Buah jeruk, grapefruits dan makanan lainnya yang mengandung vitamin C memang bermanfaat bagi kesehatan tubuh. Tetapi setelah berbagai penelitian dilakukan, diperoleh kesimpulan bahwa vitamin C hanya memiliki sedikit efek untuk menyembuhkan ataupun mencegah penyakit flu.

Penelitian terbaru mengenai vitamin C, yang dipublikasi sekitar awal tahun ini dalam Cochrane Database of Systematic Reviews, mengevaluasi berbagai penelitian mengenai vitamin C yang telah selama beberapa dekade terakhir, yang melibatkan 11.000 subjek yang mengkonsumsi 200 mg atau lebih vitamin C setiap harinya. (Batas konsumsi vitamin C yang direkomendasikan oleh pemerintah Amerika adalah 60 mg per hari). Hasil penelitian menunjukkan bahwa vitamin C hanya sedikit berpengaruh untuk mengurangi atau mengobati sakit flu pada sebagian besar populasi. Tetapi bagaimanapun, hasil penelitian terhadap sebagian besar kelompok orang yang sering mengalami stress fisik (seperti atlet maraton, anggota militer dsb) menunjukkan bahwa vitamin C dapat menurunkan resiko mereka untuk terjangkit penyakit flu. Jika para atlet tersebut menkonsumsi vitamin C sesuai dosis yang dianjurkan setiap hari, maka kemungkinan mereka untuk terjangkit penyakit flu akan berkurang 50%.

Untuk orang-orang normal seperti kita, bagaimanapun juga meminum jus jeruk tidak akan terlalu banyak berpengaruh untuk mencegah penyakit flu. Seperti dikatakan Robert Douglas (Presiden The Public Health Association di Australia), Jutaan orang yang mengkonsumsi vitamin C dengan dosis tinggi dengan asumsi bahwa akan mencegah penyakit flu sebenarnya tidak memiliki landasan yang kuat.

Lalu bagaimana awal ceritanya sehingga vitamin C dihubungkan dengan obat flu?

Semuanya berawal dari Linus Pauling – seorang peraih Nobel Kimia yang hidup dari tahun 1901 hinga 1994. Pada tahun 1970, Pauling menulis buku Vitamin C and the Common Cold, yang mempopulerkan pernyataan bahwa jenis vitamin tersebut dapat mencegah seseorang terjangkit penyakit-penyakit ringan. Tetapi menurut Thomas Hager – penulis biografi Linus Pauling -buku tersebut diterbitkan dengan latar belakang sains yang kurang baik, dan tidak ada bukti yang mendukung pernyataan tersebut.

Pauling menerbitkan buku yang sangat berpengaruh tersebut tanpa menuliskan sedikitpun mengenai jurnal ilmiah di judul dan referensinya serta tanpa bukti yang cukup, tambah Thomas Hager.

Walaupun efek dari vitamin C untuk menyembuhkan penyakit flu tidak ada, tetapi dokter hanya sedikit termotivasi untuk memperbaiki pernyataan mengenai vitamin C tersebut, dikarenakan konsumsi vitamin C bukanlah suatu ancaman bagi kesehatan publik. (Bahkan, beberapa penelitian telah menghubungkan sifat antioksidan dari vitamin C dengan mengurangi resiko kanker).

Lagi pula menurut Professor Arnold Monto – Professor Epidemiologi diUniversity of Michigan’s School of Public Health, akan lebih baik untuk tidak membuat publik menjadi anti terhadap vitamin C, lagi pula konsumsi vitamin C tidak akan membahayakan kesehatan manusia. konsumsi vitamin C akan memberikan dampak baik, dan tidak akan berbahaya bagi kesehatan, tambah Professor Monto.

Disadur dari Newsweek web exclusive (Sarah Kliff)

sumber

Theme: Banana Smoothie. Blog at WordPress.com.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.